ContentiousCottage - Sherwood Forest, Maryland - This project is located in a century-old community established as a summer retreat. Original cottages, averaging only 750 SF, were designed in the picturesque Adirondack rustic style employing green, horizontal siding, rustic locust post porches, railings and architectural ornament – all prescribed by design covenant. Irgimendieta putra 41218120033musik cr. 452655_accom Dalamajang Arcasia Achitecture Awards (AAA) 2016, sebuah desain karya arsitek Indonesia muncul sebagai yang terbaik, mengungguli karya – karya lainnya dari seantero Asia. Karya yang diberi nama P-House atau “Dancing Mountain House” merupakan hasil kerja keras Budi Pradono Architects (BPA) meraih penghargaan sebagai karya residensial terbaik. coba- coba gonzo is a weblog devoted to the future of design, tracking the innovations in technology, practices and materials that are pushing architecture, interior, product design and urbanism towards a smarter and more sustainable future. coba - coba gonzo was started by Jakarta based research architect Budi Pradono as a forum in which to investigate emerging DancingMountain House, karya Budi Pradono berhasil meraih penghargaan sebagai residensial terbaik se Asia dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) 2016. 2. Arcasia sendiri merupakan Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia mulai dari China hingga Pakistan. 3. Lembaga ini secara rutin menyelenggarakan kongres BudiPradono arsitek kelahiran Salatiga yang banyak meraih penghargaan internasional, salah satunya adalah Arcasia Architecture Awards 2016. Bangunan yang bernama “Dancing Mountain House” memiliki lima atap yang menyimbolkan sebagai gunung yang mengelilingi kota Salatiga, yakni Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Andong, . HomeSitesAuthoritiesCollectionsHomeSitesAuthoritiesCollectionsSearch HONGKONG, - P House atau "Dancing Mountain House" karya Budi Pradono Architects BPA berhasil meraih penghargaan sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia dalam Arcasia Architecture Awards AAA 2016. Arcasia merupakan Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia mulai dari China hingga Pakistan. Dalam institusi ini, Indonesia diwakili oleh Ikatan Arsitektur Indonesia IAI sebagai ini pun secara reguler menyelenggarakan kongres arsitektur hingga aktivitas pemberian penghargaan kepada firma-firma arsitektur, individu arsitek, dan mahasiswa arsitektur berprestasi. Kemenangan "Dancing Mountain House" tak terlepas dari konsepnya yang mengedepankan peran arsitektur di tengah masyarakat dan kombinasi antara modernisasi dengan unsur tradisional. Dokumentasi Budi Pradono Architecture Dancing Mountain House "Saya memilih untuk menggunakan metode merancang sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat dan konstruksi berbahan dasar bambu dengan “meminjam” bentuk-bentuk puncak gunung yang mengelilingi kota dan pedesaan Salatiga, yakni Merapi, Telomoyo, Tidar, dan Andong untuk atap rumah," jelas Budi Pradono dalam siaran pers yang diterima Jumat 30/9/2016. Pemilihan metode itu sendiri dipuji oleh pengamat arsitektur dari a+d design and architecture Singapura Rebecca Lo. Menurut dia, "Dancing Mountain House" merupakan proyek rumah individu yang dibangun di tengah-tengah komunitas penduduk Budi Pradono Architecture Dancing Mountain House "Orang-orang Indonesia memahami hidup yang baik adalah hidup dekat dengan alam, seperti Dancing Mountain House yang dibangun BPA bersama masyarakat di antara gunung, wilayah pedesaan, dan komunitas masyarakatnya," ujar Rebecca. Lebih lanjut Rebecca juga memuji BPA yang mampu memberikan nuansa intim kekeluargaan dalam desain bangunan Dancing Mountain House. Tak hanya itu, konsep borderless home atau rumah tanpa sekat yang diterapkan BPA membuatnya lebih luas dengan berpusat pada ruang keluarga berupa ruang makan utama. Dokumentasi Budi Pradono Architecture Dancing Mountain House "Saya juga kagum dengan penggunaan materi-materi di rumah lama yang ditransformasikan ke rumah baru, semacam romantika yang terus dibawa oleh keluarga dan disaat sama memberi cukup ruang publik bagi masyarakat sekitar dengan perpustakaan," ungkapnya. Proyek perumahan di Salatiga dengan penyelesaian pada 2014 silam ini diakui Budi sebagai bentuk dedikasi terhadap mendiang ayahnya yang merupakan seorang pendidik dan pengajar di sebuah universitas lokal kota tersebut. Selain membangun ingatan kolektif bagi keluarga besarnya, Budi juga membangun perpustakaan umum peninggalan ayahnya di sekitar kompleks rumah tersebut agar bisa diakses masyarakat di sana. Dokumentasi Budi Pradono Architecture Perpustakaan umum di Dancing Mountain House Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. *BRB applying for a housing loan* Andry Trysandy Mahany 29 June 2017 1122 Dancing Mountain House is currently known as one of the best settlements in Asia. The residence has also gained an award as the Asian’s best residential project. It was designed by Budi Pradono, an architect who designed Bawen-Salatiga toll road which has been claimed as the most beautiful toll road in the world for its wonderful view. Now, let’s take a look at some facts and pictures of the project. 1. Dancing Mountain House by Budi Pradono was awarded as the best residency in Asia in Arcasia Architecture Awards AAA 2016. 2. Arcasia is Council of Asian Regional Architects, formed by 19 architecture organization in Asia. 3. Arcasia regularly holds architecture congress and awards excellent architects. 4. Dancing Mountain House became the best after putting the role of architecture among the society in its concept and combining modernization with traditions. 5. The residential project was finished in 2014 yet it became a trend again as Salatiga toll road raised its popularity lately. 6. Since Dancing Mountain House does not have blocking, it enables it to create a kinship nuance. WHAT DO YOU THINK? Melalui proyek residensi Dancing Mountain House atau P House, arsitek kenamaan Indonesia Budi Pradono BPA-Budi Pradono Architects merefleksikan sensasi kebaikan hidup yang memeluk alam sekitar. Kreasi unik dari P House ini berhasil meraih penghargaan prestisius dari AAA Arcasia Award for Architecture 2016. Bertempat di Hongkong Convention and Exhibition Centre, Wanchai, Hongkong pada 29 September 2016, penghargaan diberikan kepada Budi untuk kriteria proyek residensi. Arcasia sendiri merupakan Dewan Arsitek Regional Asia, yaitu institusi yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia, dari Tiongkok sampai Pakistan. Indonesia menjadi anggota tetapnya, diwakili oleh IAI Ikatan Arsitek Indonesia. Salah satu misi dari Arcasia dalam memberikan penghargaan adalah mempromosikan peran arsitektur di masyarakat, dan ini sesuai dengan spirit yang dihembuskan oleh Dancing Mountain House. Rumah keluarga yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah ini selesai dibangun pada tahun 2014 dengan bantuan komunitas penduduk desa setempat. “Saya memilih untuk menggunakan metode merancang yang sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat,” ujar Budi Pradono. Ia menambahkan, “Konstruksinya berbahan dasar bambu dengan atap rumah yang “meminjam” bentuk-bentuk puncak gunung yang mengelilingi kota dan pedesaan Salatiga, yakni Merapi, Telomoyo, Tidar, dan Andong.” Spirit tradisional dari para tukang otodidak yang terbiasa membangun rumah-rumah desa bertautan dengan pengetahuan arsitektural yang mumpuni dari seorang Budi Pradono. Hasilnya adalah perpaduan menawan antara material tradisional seperti bambu dan batu kali dengan sentuhan desain modern yang berlumur sofistikasi. Ruang-ruang rumah dibuat tidak bersekat borderless home dengan area sentral berupa ruang keluarga yang sekaligus juga menjadi ruang makan utama. Material-material di rumah lama yang ditransformasikan ke rumah baru, yang senantiasa menyuplai memori sarat intimasi dan romantika. Budi mendedikasikan rumah ini untuk almarhum ayahnya yang seorang pendidik dan pengajar di sebuah universitas lokal di Salatiga. Selain membangun ingatan kolektif bagi keluarga besarnya, Budi juga menggagas perpustakaan kecil untuk umum peninggalan ayahnya di kompleks rumah tersebut, yang bisa diakses oleh masyarakat setempat. Ruang-ruang rumah dibuat tidak bersekat borderless home dengan area sentral berupa ruang keluarga yang sekaligus juga menjadi ruang makan utama. Material-material di rumah lama yang ditransformasikan ke rumah baru, yang senantiasa menyuplai memori sarat intimasi dan romantika. Tidak heran jika rumah karya arsitek handal akan mengagumkan dengan hasil yang penuh perhitungan. Tentu saja, rumah yang dirancang oleh para arsitek akan berbeda dengan rumah yang dirancang oleh orang rumahan. Rumah yang dirancang tersebut tidak serta merta menghasilkan bentuk sebuah rumah, namun lebih dari itu. Seperti halnya konsep yang jelas, desain rumah yang luar biasa serta tampilan rumah yang memukau. Desain rumah yang ditangani oleh para arsitek tentu tidak akan sia-sia. Hal ini terbukti dari banyaknya rumah hasil rancangan arsitek handal yang sangat menarik perhatian banyak orang. Tentu, rumah yang dirancang oleh para arsitek akan sedikitnya dijadikan sebagai inspirasi bagi banyak orang, terutama calon pemilik rumah. Seperti salah satu rumah rancangan aristek terkenal dimana beliau telah merancang desain rumah yang berbeda dari yang lain. Rumah ini dikenal dengan sebutan P House atau Dancing Moutain House. Untuk lebih mengetahui bagaimana hasil rancangan rumah tersebut? Yuk kita simak penjelasan kami di bawah ini! Dancing Mountain House atau yang sering disebut dengan P House ini yakni karya Budi Pradono Architects BPA. Beliau telah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia dalam Arcasia Architecture Awards AAA tahun 2016. Perlu Anda ketahui bahwa Arcasia yakni sebuah Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia. Untuk institusi ini, Indonesia tentunya diwakili oleh Ikatan Arsitektur Indonesia IAI yang juga sebagai anggotanya. Rumah dengan konsep rumah yang luar biasa ini dirancang dengan menyisipkan rumah dengan perpustakaan untuk berbagi pengetahuan kepada penduduk setempat. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Dancing Mountain House ini berasal dari rumah-rumah tua dengan memaksimalkan penggunaan bahan-bahan lokal yang tersedia di daerah sekitarnya seperti bambu, tanah liat, batu, dan batu bata. Rumah ini juga dibangun oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. Yang membedakan P House dengan rumah lainnya dimana P House ini menggunakan teknologi asli yang digunakan oleh masyarakat yang ahli dalam sistem struktur bambu dan juga kerajinan batu lokal. Proyek ini setidaknya bertujuan untuk menonjolkan rumah-rumah Desa Jaw. Dimana dengan menambahkan bentuk pegunungan di beberapa ruang sebagai sebuah interpretasi pegunungan di sekitarnya. Atap di dalam rumah ini dibuat terbuka yang sekaligus berfungsi sebagai cahaya langit guna mendapatkan cahaya alami sebanyak mungkin ke dalam rumah tersebut. Secara umum, material bahan yang digunakan untuk membuat rumah ini yakni dari bambu sebagai bahan struktur utama yang mudah ditemukan di sekitar proyek bangunan rumah tersebut. Jika dilihat dari desain rumah tersebut, maka Dancing Mountain House atau P House termasuk ke dalam jenis rumah unik. Ingin tahu seperti apa keunikan dari P House ini? Yuk kita simak dibawah ini! Dancing Mountain House Sebagai Rumah Bertajuk Tradisional Dancing Mountain House yang dirancang oleh Budi Pradono ini memang lebih mengedepankan sisi tradisional. Dapat dilihat di lingkungan tersebut tentunya hampir semua pohon besar yang ada di lingkungan tersebut dipertahankan. Hal ini untuk menonjolkan rumah tersebut bertajuk alam. Di tengah taman tersebut dapat Anda temukan sebuah pohon pule’. Pohon ini diketahui menjadi salah satu pohon yang digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak heran jika pohon yang satu ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dancing Mountain House Dibuat Untuk Perpustakaan Terbuka Pemilik rumah P House yang dirancang oleh Budi Pradono ini merupakan seorang pensiunan dosen yang ingin berbagi koleksi buku ekonomi dan sains kepada masyarakat sekitar. Mereka menghargai struktur bambu yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat saat ini. Pada awalnya rumah ini dibuat sebagai sebuah hunian untuk anaknya, akan tetapi karena tinggal diluar kota, maka dibuatkan rumah ini sebagai sebuah perpustakaan kolektif untuk berbagi ilmu. Perpustakaan atau ruang belajar dibuat dengan geometri lain yakni bentuk oval yang berdiri terpisah sebagai paviliun. Diharapkan dengan adanya bangunan ini, maka masyarakat sekitar dapat memanfaatkan keberadaan buku-buku di perpustakaan dengan sebaik-baiknya. Dikarenakan pada awalnya akan digunakan sebagai sebuah hunian, maka ruang tidur dioperasikan secara mandiri dan tetap tertutup. Sedangkan untuk semua area publik benar-benar terbuka dan menghadap ke arah taman dan juga hutan tropis di depannya. Dancing Mountain House Dirancang Dengan Konsep Rumah Pedesaan Karena proyek ini berada di daerah terpencil pinggiran kota kecil, proyek ini menggunakan sinar matahari sebagai cahaya alami di siang hari dan menggunakan pemanas air matahari untuk mandi. Saat musim hujan, maka air hujan dikumpulkan yang akan digunakan selama musim kemarau. Sedangkan untuk depan rumah tersebut menghadap sebuah taman sehingga memungkinkan dalam jumlah paling banyak mendapati cahaya. Karakter proyek ini menunjukkan interpretasi kontemporer tentang bentuk rumah desa sederhana. Karakter struktur bambu dominan tentu cukup signifikan. Penggunaan bambu sebagai bahan atap tentu sebagai bahan material yang baru dan dibangun disana. Sedangkan dari kejauhan bangunan-bangunan tersebut tampak seperti rumah-rumah di pedesaan. Lokasi dan Kondisi Dancing Mountain House Dancing Moutain House atau P House ini terletak di ketinggian 2000 m di atas permukaan laut dan terletak di punggung Gunung Merbabu yang dikelilingi oleh beberapa gunung lain seperti Gunung Merapi dan Gunung Telomoyo. Daerah ini cukup dingin dengan suhu rata-rata sekitar 17-22 ° C. Secara konseptual proyek ini mencoba untuk menonjolkan kenangan masa kecil keluarga dengan keterbukaan dengan berbagi ruang. Kamar mandi utama adalah ruang sosial di mana masih bisa berinteraksi dengan ruangan lainnya Sedangkan ruangan lain dihubungkan oleh ruangan inti seperti dapur, lounge, pantry, ruang makan dan ruang keluarga sehingga semuanya benar-benar terbuka. Secara teknis, proyek ini memberikan contoh penggunaan bambu dengan menggunakan teknik lama dan juga teknologi baru untuk masyarakat sekitarnya. Dari sudut pandang ekonomi dan sosial, proyek ini dibangun dengan menonjolkan aspek ekonomi dan juga budaya di daerah sekitarnya. Dancing Mountain House Dibuat Dengan Material Alami Kesederhanaan dari rumah ini tentunya merupakan tema kedua yang ditonjolkan oleh proyek ini. Material bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini yakni seperti batu bata, bambu, dan batu dengan cara lain. Pintu-pintu yang digunakan di setiap ruangan adalah pintu daur ulang dari rumah tua, tentu hal ini sebuah strategi penggunaan bahan daur ulang. Bahan – bahan yang digunakan diantaranya • Infill bata merah dan batu • Fasad batu, bata, kaca • Lantai beton ekspos, pecahan bambu kamar tidur dan batu andesit kamar mandi • Langit – langit pecahan bambu dan kertas insulasi • Lainnya profil baja dan kaca Demikianlah beberapa keunikan dari Dancing Mountain House atau P House yang ternyata wajib untuk Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

dancing mountain house budi pradono